Dulu waktu kuliah, aku tuh merasa jadi the next big thing versi ecek-ecek di dunia desain digital. Photoshop? Lancar. Illustrator? Bisa. Corel Draw? Gampang.
Bahkan aku sempat nguasain Adobe After Effects dan 3D Max segala. Ini dua software yang sering bikin temen-temen sekelas bengong pas aku demoin.
Tapi yang paling aku suka? Bikin animasi dua dimensi pakai Adobe Flash. Rasanya seru aja. Aku bisa bikin karakter bergerak, cerita hidup, semua dari nol.
Tapi ya gitu deh, mimpi dan realita itu kadang nggak sejalan.
Begitu terjun ke dunia nyata, aku langsung ditampar kenyataan pahit. Persaingan di industri desain itu ketat banget, bro.
Dan yang lebih parah? Banyak orang yang dengan santainya merusak harga pasar. Bayangkan, desain logo yang harusnya ratusan ribu bahkan mungkin jutaan, dijual cuma puluhan ribu.
Belum lagi drama sama klien yang selera-nya... bikin ngelus data. Karena emang tiap orang kan seleranya beda-beda ya. Jadi, revisi berkali-kali sampai rasanya pengen nangis di pojokan itu dah biasa banget.
Tapi gimana dengan pesanan? Jangan ditanya. Sepi kayak kuburan tengah malam.
Akhirnya aku mundur. Aku tinggalkan dunia desain yang dulu aku cintai mati-matian.
“Mungkin emang bukan jalannya,” pikir aku waktu itu, sambil ngeliatin folder-folder project lama yang nganggur di hard disk.
“Banting Stir” Demi Sesuap Nasi
Fast forward beberapa tahun kemudian. aku udah jadi full-time blogger dan content creator. Banting stir demi sesuap nasi. Dan tahu nggak? Peluang di dunia desain itu datang lagi, tapi kali ini dalam bentuk yang berbeda. Edit foto tepatnya.
Tahu sendiri sekarang media sosial itu gila-gilaan perkembangannya. Apa-apa gampang viral bahkan hal-hal yang sepele sekalipun.
Buat aku, edit foto itu biasa banget dan tidak butuh skill hebat. Tapi nyatanya, di sosmed banyak banget orang-orang yang nggak bisa, dan butuh bantuan. Entah itu untuk sekedar bikin pas foto 3 x 4 dengan latar biru buat nikah, atau edit foto prewedding yang nggak rapi, atau bikin foto paspor, dan lain sebagainya.
Aku mulai posting hasil editan, kasih contoh before-after, terus... BOOM. Salah satu post aku viral.
Serius man! Notifikasi masuk nonstop. DM penuh. WhatsApp gacor kayak lagu dangdut di hajatan.
Ini dia momen yang aku tunggu-tunggu! Pesanan membludak sampai heran. Rasanya kayak mimpi, mimpi yang akhirnya jadi kenyataan setelah sekian lama jatuh bangun.
“Oke, ini kesempatan aku. Harus dimaksimalin!”
Dan aku pun kerja. Dari pagi sampai malam. Bahkan sering ketiduran di sambil megang hp, bangun-bangun udah banyak yang antri di DM.
Ketika Tubuh Mulai Protes
Hampir sepekan kerja marathon, mata mulai kerasa aneh. Awalnya cuma berasa sedikit sepet, kayak ada pasir halus gitu.
Aku pikir, “Ah, mungkin kurang tidur aja.” Terus aku lanjutin edit foto klien yang minta foto selfie dengan filter kecantikan diubah menjadi foto formal dengan kemeja putih dan background biru.
Keesokan harinya, mata mulai makin perih. Tapi pesanan masih numpuk, jadi aku tetep lanjut. Aku bilang, “mumpung banyak pesanan, kapan lagi bisa gini?”
Sampai akhirnya, mataku bener-bener lelah. Nggak cuma lelah biasa, tapi lelah yang bikin aku nggak bisa fokus liat layar lebih dari lima menit. Mata Sepet, Perih, Lelah, yang kalau disingkat jadi “SePeLe.”
Dan bodohnya, aku sama sekali nggak tau cara mencegahnya. Aku bahkan nggak nyiapin obat tetes mata kayak Insto Dry Eyes atau apapun yang bisa bantu ngurangin gejala mata kering ini. Pokoknya modal nekat aja. Yang penting kerja, kerja, dan kerja.
Sampai suatu malam, pas lagi edit foto klien yang deadline-nya besok pagi, mata aku kayak mogok total. Perih banget. Sepet sampai rasanya pengen aku garuk (tapi ya jangan, bahaya).
aku coba kedip-kedip berkali-kali, tapi tetep aja nggak enak. Layar laptop yang tadinya jelas, sekarang kayak blur.
“Ih, ini kenapa sih?!”
Aku terpaksa berhenti. Tutup laptop. Aku nggak bisa bertaruh dengan kesehatan. Karena walau bagaimanapun, kesehatan lebih penting daripada semua penghasilan yang aku dapatkan dari edit foto ini.
Ironi Paling Menyakitkan
Tau yang paling nyesek? Pas pesanan lagi banyak-banyaknya, pas momentum yang aku tunggu-tunggu akhirnya datang, aku malah harus nolak banyak permintaan edit foto.
Kalau ada yang pesan foto biasanya aku jawab, “Maaf kak, lagi penuh.” Padahal sebenernya mataku udah nggak sanggup. Gejala mata kering yang aku sepelekan, akhirnya balas dendam. Dan aku cuma bisa gigit jari, ngeliat peluang emas berlalu gitu aja.
Rasanya kayak udah dapet tiket konser idola, eh ternyata sakit dan nggak bisa pergi. Sedih, kesel, nyesel, campur aduk jadi satu.
Insto si Penyelamat dari Mata Kering
Desperate, aku browsing, “Kenapa mata aku kayak perih dan seperti kelilipan, padahal nggak ada pasir?”
Ternyata, ini namanya gejala mata kering. Dan ternyata juga, banyak banget orang yang ngalamin, terutama yang kerjanya di depan layar berjam-jam kayak aku.
Mata SePeLe Jangan Disepelein itu bukan cuma slogan, tapi warning beneran.
Aku cari-cari di internet dan nemu saran pakai obat tetes mata khusus untuk mata kering. Salah satunya yang sering disebut adlah INSTO DRY EYES.
Aku langsung beli ke minimarket deket rumah. Dan pas pertama kali tetesin Insto Dry Eyes ke mata aku... Behhh... rasanya kayak oasis di tengah gurun.
Mata yang tadinya perih dan sepet langsung berasa lebih segar. Nggak langsung 100% sembuh sih, tapi bedanya signifikan banget. aku bisa buka mata lebih lama, fokus ke layar lebih nyaman, dan yang penting, bisa kerja lagi.
Sejak itu, INSTO DRY EYES jadi sahabat baruku. Setiap kali mata mulai berasa nggak enak, langsung tetesin.
Dan aku juga mulai lebih aware dengan tips mencegah mata kering. Misalnya, istirahat setiap 20-30 menit, liat yang jauh-jauh biar mata nggak tegang terus, dan yang paling penting, #BebasMataKering bukan cuma soal obat, tapi juga soal habit.
Jangan Sepelein Mata SePeLe
Kalau aku bisa ngomong ke diri aku yang dulu, aku bakal bilang, “Sist, jangan sepelekan sinyal tubuhmu. Matamu itu aset paling berharga buat kerja lho.”
Sekarang, aku selalu siapin Insto Dry Eyes di atas meja kerja. Setiap kali mata mulai kasih tanda-tanda #MataSePeLeJanganSepelein, langsung aku tangani. Karena percuma punya banyak pesanan kalau mata aku nggak sanggup ngerjain.
BTW, buat kamu yang mungkin lagi baca ini sambil merem sebelah mata karena capek natap layar, dengerin deh. Gejala mata kering itu real. Mata yang sepet, perih, atau lelah itu bukan cuma “capek biasa.” Itu tandanya tubuh kamu lagi teriak minta tolong.
Jadi, tetesin Insto Dry Eyes kalau perlu. Istirahat kalau mata udah kasih warning. Dan inget! sukses itu nggak ada artinya kalau kesehatan jadi korban.
Sekarang? aku masih jadi editor foto dadakan. Masih ada yang suka pesen meski nggak sebanyak kalau VT lagi viral.
Tapi bedanya, sekarang aku kerja lebih smart. Mata aku lebih sehat. Terus yang paling penting, aku selalu sedia #InstoDryEyes di atas meja, di motor, dan di mobil.
Jadi, kalau kamu lagi ngejar mimpi kayak aku dulu, inget! jaga mata. Karena tanpa mata yang sehat, mimpimu cuma bakal jadi... mimpi kosong.
0 Komentar